Aktiva Lancar atau Aset Lancar (Current Assets)

Aktiva Lancar atau Aset Lancar (Current Assets)

Pengertian Aktiva Lancar

Pengertian aktiva lancar adalah uang tunai atau kas dan aset kekayaan lainnya yang diharapkan bisa dikonversi menjadi kas maupun dijual/dikonsumsi habis dalam waktu tidak lebih dari satu tahun buku.

Melihat definisi aktiva lancar tersebut, saya punya pertanyaan untuk anda.

Apakah rumah adalah aktiva lancar ?

Eits... tunggu.. jangan dijawab dulu.

Kalaupun sudah dijawab, coba simpan dulu dalam hati karena jawaban dari pertanyaan sederhana ini mungkin bisa membantu anda memahami dengan detail apa saja yang termasuk aktiva lancar.

Yang mungkin anda tidak menyangkanya. OK Lanjut baca sampai habis..


Aset Lancar
Aktiva Lancar

Karakteristik Aktiva Lancar

Berdasarkan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), aset lancar memiliki kriteria kriteria sebagai berikut:

1. Entitas usaha mengharapkan untuk menggunakan atau mengeluarkan (menjual) aktiva dalam kurun siklus normal kurang dari satu tahun buku.

Contoh piutang usaha yang jatuh tempo pembayarannya kurang dari satu tahun buku.

Contoh yang lain lagi adalah meja kursi, adalah aset lancar bagi perusahaan mebel, karena merupakan persediaan yang akan dijual tetapi jika dimiliki bukan perusahaan mebel misal perusahaan manufaktur meja kursi akan dicatat sebagai aset tetap (peralatan) karena perusahaan tersebut tidak memiliki tujuan untuk menjual meja kursi, hanya digunakan sebagai peraltan untuk mendukung operasi perusahaan.

2. Entitas usaha mempunyai aktiva yang ditujukan untuk diperdagangkan.

3. Entitas usaha akan merealisasikan aktiva dalam rentang waktu periode satu tahun buku (12 bulan) setelah laporan. 

Misalnya piutang karyawan dimana perusahaan akan menerima pembayarannya dalam tempo satu tahun buku setelah periode pelaporan.

4. Kas (cash) atau setara kas kecuali yang dibatasi sehingga tidak bisa digunakan membayar kewajiban paling tidak satu tahun buku. 

Setara kas adalah investasi oleh perusahaan yang bersifat jangka pendek dan likuid.

Untuk dijadikan uang kas sangat mudah dan cepat dengan nominal yang bisa ditentukan dan resiko perubahan nilainya sangat tidak signifikan.

Apa saja yang termasuk aktiva lancar ?

Berdasarkan kriteria tersebut, berikut contoh yang termasuk dalam aktiva lancar terdiri dari :

#1. Kas dan Setara Kas 

    aktiva lancar kas
    ilustrasi uang kas tunai

    Kas bisa dikatakan sebagai aktiva lancar yang paling lancar.

    Kas (cash) ini sebenarnya sederhana ....

    Account apapun yang bisa ditabungkan di bank dan bisa ditarik/diambil dengan mudah setiap saat (sewaktu waktu) dalam bentuk kas itu dianggap kas.

    Contohnya adalah uang tunai, check (belum ditarik/diuangkan) dan juga uang kas yang disimpan di bank yang dialokasikan sebagai cadangan.

    Kas yang disimpan dibank adalah kas yang disimpan pada jenis tabungan biasa.

    Bukan tabungan deposito

    Sertifikat depisito tidak termasuk dalam kas karena adanya pembatasan waktu dalam penarikan.

    Deposito tidak bisa diambil setiap saat.

    Agar sebuah account bisa disebut dengan aset lancar, account tersebut WAJIB tersedia dan bisa segera digunakan.

    Kas yang disimpan dan tidak digunakan dalam periode atau dibatasi penggunaannya dalam siklus normal operasi perusahaan tidak disebut aset lancar.

    Seperti deposito tadi.

    Dan apa itu "Setara Kas"?

    Setara kas adalah jenis investasi jangka pendek perusahaan yang sifatnya likuid (lancar).

    Likuid artinya investasi tersebut siap dikonversikan kedalam bentuk kas dengan nilai yang bisa diukur secara pasti.

    Investasi jangka pendek biasanya memiliki tempo pencairan paling lama 3 bulan.

    Perubahan suku bunga tidak mengubah nilainya investasi secara signifikan.

    Contohnya adalah investasi reksadana di pasar uang.

    #2. Investasi Jangka Pendek yang Diperdagangkan

    Investasi yang ditujukan dijual kembali dalam jangka waktu yang pendek untuk mendapatkan gain atau keuntungan.

    Investasi ini juga merupakan aset lancar.

    Contohnya investasi membeli efek sekuritas, aset deriative yang dibeli dengan maksud untuk dijual kembali.

    Agar tidak salah menentukan apakah sebuah investasi adalah aktiva lancar atau tidak, investasi tersebut harus dilihat secara detail. Ada beberapa hal yang perlu dilihat:

    #1. Jumlah nominal investasi 

    Apabila nilai investasi yang ditanamkan tergolong besar, maka kemungkinan investasi tersebut adalah inestasi jangka panjang dan bukan termasuk dalam bagian aktiva lancar.

    Namun apabila nilai investasi yang ditanamkan tergolong kecil, umumnya investasi tersebut dikategorikan sebagai aktiva lancar

    #2. Jangka waktu pengembalian

    Setiap investasi pasti menginginkan memperoleh hasil atau return.

    Seberapa lama return investasi tersebut akan diperoleh ?

    Apabila return investasi tersebut diperoleh dalam periode yang relatif singkat, tidak sampai satu tahun sudah menghasilkan, biasa investasi tersebut digolongkan kedalam aktiva lancar.

    Namun jika investasi tersebut memiliki jangka waktu pengembalian investasi yang lama, maka investasi tersebut tidak bisa disebut dengan aktiva lancar.

    #3. Piutang Dagang | Accounts Receivable

      Piutang adalah tagihan kepada seseorang atau badan usaha lain yang muncul karena adanya penjualan secara kredit dan jangka waktu pelunasannya kurang dari satu tahun.

      Contoh piutang adalah piutang pada perusahaan rekanan (afiliasi) dan piutang pada pelanggan.

      Apabila nanti ada penurunan nilai piutang misalnya karena adanya return penjualan, diskon ataupun piutang yang tidak bisa ditagih, maka pencatatannya harus dicantumkan dan dijelaskan secara detail pada penjelasan laporan keuangan perusahaan.

      #4. Persediaan | Inventory

        Persediaan adalah aktiva lancar yang tersimpan, baik untuk dijual kembali (misal persediaan barang dagang) maupun barang yang akan digunakan oleh perusahaan (misal bahan baku).

        Persediaan termasuk aktiva lancar karena persediaan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa diuangkan atau digunakan.

        Namun banyak yang salah kaprah tentang persediaan.

        Begini apapun bendanya, apapun jenis aktivanya, apabila aktiva tersebut bertujuan untuk dijual kembali, atau diproses kembali, maka itulah persediaan.

        Untuk mempermudah memahami persediaan, masih ingat pertanyaan saya diatas tadi ?

        Apakah rumah adalah aktiva lancar ?

        Iya rumah...

        Aset yang tidak bisa bergerak dan nilainya juga besar apakah itu aktiva lancar ?

        Saya yakin kebanyakan pasti menjawab BUKAN.

        Mungkin termasuk juga anda.

        Rumah bukan aktiva lancar tapi rumah adalah aktiva tetap. Begitu kira kira alasannya.

        Sekilas memang tidak salah, namun jawaban tersebut belum tentu benar.

        Lho kok bisa ?

        Perlu diketahui terlebih dahulu apa fungsi rumah tersebut bagi perusahaan.

        Apabila rumah tersebut digunakan untuk tempat tinggal salah satu manajer perusahaan atau digunakan sebagai kantor cabang.

        Jawaban anda pasti benar.

        Rumah tersebut adalah aktiva tetap dan bukan aktiva lancar.

        Namun apabila rumah tersebut ternyata tidak digunakan sama sekali dan dibangun/dibeli untuk dijual kembali.

        Maka rumah tersebut adalah aktiva lancar.

        Misalnya perusahaan yang bisnis utamanya adalah jual beli rumah atau developer.

        Rumah tersebut termasuk kedalam PERSEDIAAN perusahaan.

        Bukan aktiva tetap.

        Anda tahu ciputra grup ? salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia.

        Mereka memiliki ribuan unit rumah dan apartemen.

        Tidak ada satupun yang digunakan karena rumah tersebut dibangun untuk dijual kembali.

        Bagi ciputra dan developer lain, rumah tersebut dijadikan stok persediaan barang dagang mereka.

        Pada neraca perusahaan, ribuan unit rumah dan apartemen tersebut ada didalam akun persediaan.

        Sekali lagi, bukan aktiva tetap.

        Lho... walaupun bukan perusahaan properti, perusahaan diindustri lain bukannya juga memiliki rumah yang mereka bisa menjualnya kembali dan mendapat keuntungan.

        Apakah juga termasuk aktiva lancar ?

        Tidak.

        Perusahaan yang bisnisnya bukan jual beli rumah, tapi punya rumah yang bisa dijual bukanlah aktiva lancar.

        Rumah tersebut tetap aktiva tetap.

        Ketika awal perusahaan tersebut membangun atau membeli rumah, tidak ada niatan perusahaan tersebut untuk menjual kembali rumah tersebut. Perusahaan bertujuan untuk menempati dan memanfaatkan rumah tersebut untuk kepentingan operasionalnya.

        Jika ditengah perjalanan dan kondisi tertentu yang memaksa perusahaan menjual rumah tersebut dan mendapatkan laba.

        Maka laba tersebut adalah laba non operasional. Bukan laba operasional karena jual beli rumah bukanlah bisnis utamanya.

        Semoga bisa dipahami, jadi apapun bentuknya mau mobil, rumah, gedung, mesin dengan harga yang fantastis sekalipun jika tujuannya adalah dijual kembali maka itu adalah aktiva lancar.

        #5. Beban Dibayar Dimuka | Prepaid Expenses

          Beban dibayar dimuka adalah aset yang diperoleh karena adanya pembayaran yang dilakukan terlebih tetapi aset tersebut belum dimanfaatkan.

          Manfaat dan pemakaian beban dibayar bimuka tidak akan habis dalam satu periode.

          Contoh beban dibayar dimuka adalah sewa gedung yang dibayar dimuka, pembayaran asuransi dimuka.

          Misalnya perusahaan menyewa sebuah ruko untuk kantor cabang.

          Perusahaan menyewa ruko dengan harga Rp 100.000.000 selama sepuluh tahun dan dibayar lunas dimuka.

          Jadi sebelum perusahaan menempati dan memanfaatkan ruko tersebut, perusahaan sudah mengeluarkan biaya sebesar Rp 100.000.000 tersebih dahulu.

          Uang Rp 100.000.000 tersebut adalah aset beban dibayar dimuka perusahaan yang nanti akan dimanfaatkan ditahun mendatang.

          #6. Wesel Tagih | Note Receivable

          Wesel tagih (promissory notes receivable) adalah tagihan perusahaan terhadap pihak lain.

          Wesel tagih bisa dikatakan sebagai piutang dagang perusahaan.

          Namun wesel tagih dan piutang memiliki perbedaan.

          Wesel tagih pada umumnya bersifat lebih formal daripada piutang dagang.

          Terdapat perjanjian antara perusahaan (debitur) dengan kreditur secara tertulis dan mengikat secara resmi untuk melunasi atau membayar piutangnya pada waktu yang telah ditentukan.

          Pada wesel tagih juga bisa terdapat bunga dan bisa dipindah tangankan atau dijual kepada pihak lain sebelum wesel tagih tersebut jatuh tempo.

          Jadi ketika perusahaan membutuhkan kas, namun penerima wesel tagih belum membayar utangnya, perusahaan bisa menjual wesel tagih tersebut kepihak lain.

          Nanti pihak lain ini yang akan menerima pelunasan wesel dari kreditur.

          #7. Perlengkapan

          Perlengkapan (suppplies) merupakan aset lancar perusahaan yang berfungsi untuk mendukung aktivitas operasional perusahaan.

          Perlengkapan (supplies) merupakan barang yang dimiliki oleh perusahaan untuk melengkapi atua mendukung kegiatan operasional perusahaan.

          Bentuk perlengkapan relatif kecil dan biasanya akan habis dipakai atau bisa dipakai berulang ulang.

          Contoh aktiva lancar perlengkapan adalah kertas, tinta, nota, printer dan barang barang dengan nominal kecil lainnya

          #8. Pendapatan yang Masih Harus Diterima 

          Maksud dari pendapatan yang masih harus diterima adalah pendapatan perusahaan namun pembayarannya masih belum diterima oleh perusahaan.

          #9. Cadangan Kerugian Piutang

          Cadangan kerugian piutang adalah kas cadangan perusahaan yang dibuat untuk mengantisipasi jika ada piutang yang tidak bisa ditagih.

          #10. Kas Kecil | Petty Cash

          Kas kecil adalah aktiva lancar perusahaan yang memang disediakan secara khusus untuk membayar keperluan yang relatif kecil.

          Konsep Aset Dalam Akuntansi: Pengertian Aktiva

          Konsep Aset Dalam Akuntansi: Pengertian Aktiva

          Pengertian Aktiva
          Pengertian Aset

          Pengertian Aktiva | Pengertian Aset

          Pengertian aktiva atau aset adalah kekayaan (sumber daya) yang dimiliki oleh entitas bisnis yang bisa diukur secara jelas menggunakan satuan uang serta sistem pengurutannya berdasar pada seberapa cepat perubahannya dikonversi menjadi satuan uang kas.

          Misalnya gedung dan uang tunai, diurutkan uang tunai (kas) dulu baru kemudian gedung.

          Berdasarkan yang paling lancar dan gedung tentunya bisa di ukur berdasarkan satu satuan uang tunai.

          Misalnya katakanlah Rp 40 juta atau Rp 100 juta dinyatakan dalam satuan "Rp" bukan 40 kg atau 100 kg ataupun km.

          Kekayaan perusahaan ini bisa berbentuk wujud fisik atau juga non fisik (hak) yang memiliki nilai.

          Aktiva adalah sumber daya yang dimiliki karena terjadinya peristiwa dimasa lalu dan manfaat ekonominya diharapkan diperoleh oleh perusahaan di masa yang akan datang.

          Aset bermanfaat secara langsung ataupun tak langsung, Sifatnya produktif dan masuk dalam bagian operasi perusahaan dan juga memiliki kemampuan dalam mengurangi pengeluaran kas.

          Aktiva memiliki potensi manfaat di masa yang akan datang, potensi manfaat tersebut bisa dalam bentuk hal hal yang produktif yang bisa menghasilkan kas atau setara kas.

          Manfaat yang lain dari aktiva adalah aset sebagai penghasil barang dan jasa, dapat ditukar dengan aktiva lain, melunasi kewajiban (hutang).

          Ada beberapa cara untuk memperoleh Aset
          • Aktiva bisa diperolah dengan cara diproduksi atau dibangun sendiri, 
          • Bisa didapat dengan dibeli
          • Pertukaran aset maupun sumbangan dari pihak lain.

          Jika ditelaah, kepemilikan aset tidak hanya mengenai aset aset yang ber-hak milik saja.

          Tetapi bisa juga hak hak yang lain misalnya hak sewa, hak guna bangunan, hak tagih, hak pakai maupun yang lainnya.

          Perbedaan hak kepemilikan tersebut nantinya akan mempengaruhi jenis item dan penggolongan aktiva didalam laporan keuangan.

          Contoh aktiva misalnya uang tunai (kas), tanah, bangunan, peralatan, perlengkapan, sewa dibayar dimuka, hak paten dan lainnya.

          Jenis Jenis Aktiva

          Aktiva dalam akuntansi umumnya dikelompokkan ke dalam tiga bagian:

                    Aset lancar, aset tetap dan aset tak berwujud.

          Penjelasan singkatnya bisa dilihat berikut ini, penjabaran lebih lanjut akan diposting di lain tempat, silahkan klik link yang ada.

          Aktiva Lancar | Current Assets

            Aktiva ini biasanya digunakan dan bermanfaat dalam waktu yang relatif singkat, tidak lebih dari satu tahun buku dan bisa dikonversikan ke bentuk uang kas.

            Contoh aktiva lancar seperti uang tunai (kas/cash), temporary invesment ( investasi jangka pendek), accounts receivable (piutang dagang), notes receivable (wesel tagih), inventories (persediaan), accrued receivable (pendapatan yg msih akan diterima), prepaid expense (beban dibayar dimuka).

            Aktiva Tetap | Fixed Assets

              Aktiva tetap merupakan sumberdaya/kekayaan harga yang dimiliki suatu entitas bisnis yang sifatnya permanen dan bisa diukur dengan jelas.

              Aktiva tetap digunakan dan bermanfaat dalam waktu yang relatif lama, lebih dari satu tahun buku.

              Tujuan aktiva tetap diperoleh perusahaan adalah untuk digunakan sendiri dan tidak dijual.

              Kecuali ada hal hal atau kondisi khusus yang mengharuskan perusahaan menjual aktiva tetapnya.

              Contoh aktiva tetap misalnya bangunan, tanah, peralatan kantor, mesin, kendaraan dan yang lainnya.

              Aktiva Tak Berwujud | Iintangible Assets

                Sesuai namanya, wujud aktiva ini tak tampak, tidak bisa disimpan, dipegang bentuknya namun bisa dirasakan manfaatnya.

                Aset tidak berwujud ini bisa merupakan hak hak perusahaan yang kepemilikannya diatur dan dilindungi oleh peraturan perundang undangan.

                Contoh misalnya hak paten, hak guna bangunan, hak sewa atau hak kontrak, franchise, trademark dan goodwill. dll.
                  Perlakuan Akuntansi Aset Hilang Dicuri Maling

                  Perlakuan Akuntansi Aset Hilang Dicuri Maling

                  Berbicara aktiva tetap, sudahkan Anda membaca perlakuan akuntansi aktiva tetap ?

                  Bagaimana seandainya jika aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan tiba tiba saja hilang tercuri maling ?

                  Bagaimana perlakuan akuntansi aset yang hilang ?
                  Aktiva TEtap Hilang TErcuri
                  Aktiva Hilang Tercuri

                  Aset tetap hilang tercuri ?

                  Memang kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi.

                  Hilang karena sistem keamanan yang kendor terhadap pihak luar, bahkan keterlibatan orang orang dalam perusahaan itu sendiri. niscaya bisa terjadi kapan pun.

                  Aset tetap yang hilang merupakan salah satu alasan penarikan aset tetap (plant asset retirement).

                  Selain hilang, aset yang terbakar atau rusak juga merupakan alasan penarikan aset dengan kasus yang khusus, nanti akan saya tulis di lain postingan.

                  Di tulisan ini akan saya bahas perlakuan dan prosedur penghapusan aset tetap yang hilang dicuri maling.

                  Aset Tetap Hilang Tercuri (Theft Asset)

                  Dalam kasus seperti ini aset tetap yang hilang tentu harus dihapus dari buku atau catatan perusahaan.

                  Pengahapusan buku atas aset tetap dilakukan berdasarkan bukti surat kehilangan dari pihak pihak kepolisian.

                  Tetapi bagaimana seandainya jika surat laporan kehilangan dari pihak kepolisian tidak ada ?

                  Maka tidak bisa dilakukan penghapusan, pembuktiannya sangat sulit saat laporan keuangan kepada stake holder, mereka bakal tidak percaya.

                  Untuk itu diperlukan surat lapor kehilangan dari pihak kepolisian sebagai dasar penghapusan aset tetap.
                  Contoh Kasus

                  Pada tanggal 6 Juni 2014, PT.Foraz kehilangan mesin printing yang dahulu dibeli pada tanggal 01 Maret 2014 dengan harga perolehan Rp 160,000,000.

                  Atas kehilangan tersebut pihak PT. Foraz telah melaporkannya kepada pihak kepolisian dengan surat lapor no. 0606/IV/SLK/POLRI/2014 tertanggal 06 Juni 2014.

                  Sekedar diketahui, PT Foraz Dalam menghitung penyusutannya menggunakan metode garis lurus.

                  Diperkirakan umur ekonomis mesin printing diperkirakan 4 tahun, dan PT Foraz tidak memperkirakan nilai sisa atau nilai residu pada aset mesin printing tersebut (nilai residu 0)

                  Bagaimana prosedur penghapusan mesin printing tersebut ?

                  Prosedur penghapusannya sebenarnya sederhana saja:
                  Langkah pertama :

                  Update nilai buku mesin printing

                  Upadate nilai buku dengan menghitung penyusutan mesin printing dari tanggal perolehan mesin hingga tanggal hilangnya mesin printing tersebut.

                  Penyusutan 01 Maret – 06 Juni 2014:

                  Mesin printing telah dipergunakan selama 3 bulan

                  Penyusutan = 3/12 x (160,000,000/4) = Rp 10.000.000

                  Kemudian selanjutnya kita akui penyusutan mesin printing tersebut dengan jurnal :

                  Debit | Depreciation Rp10.000.000
                  Kredit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000

                  Notes:
                  Penjurnalan diatas untuk:
                  • Mengakui biaya penyusutan sebesar Rp 10.000.000
                  • Mengakui akumulasi penyusutan dengan besaran nominal yang sama.

                  Maka, nilai buku handycam per 06 Juni 2014, tanggal dimana aset tersebut hilang tercuri:
                  Perolehan mesin printing - Akumulasi penyusutan

                  Rp 160.000.000 - Rp 10.000.000
                  = Rp 150.000.000

                  Jadi saat aset tersebut hilang, nilai bukunya sebesar Rp 150.000.000 

                  Langkah berikutnya:

                  Hapus nilai mesin printing yang hilang


                  Aset tetap yang hilang dihapuskan dengan jurnal :

                  Debit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000
                  Debit | Rugi Kehilangan Aktiva Tetap Rp150.000.000
                  Kredit | Aktiva Tetap - Mesin Printing Rp160.000.000

                           Kesimpulan : kerugian diakui sebesar nilai buku aset tetap yang hilang.

                  Pelaporan Penghapusan Aset Tetap yang Hilang

                  Di akhir periode, mesin printingnya sudah tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldo-nya sudah NOL sedangkan kerugian yang dialami diklasifikasikan ke dalam kelompok pos pos luar biasa (extra ordinary items).

                  Dan dalam catatan laporan keuangan diberikan penjelasan mengenai terjadinya extraordinary items tersebut.

                  Bagaimana perlakuan akuntansi jika aset tetap terbakar atau rusak?

                  Silahkan baca disini: Aktiva tetap yang terbakar atau rusak

                  Perlakuan Akuntansi Aset Tetap Rusak atau Kebakaran

                  Perlakuan Akuntansi Aset Tetap Rusak atau Kebakaran

                  Sudah baca artikel sebelumnya tentang perlakuan akuntansi pada aset yang hilang ?

                  Jika belum, anda bisa membacanya di : Aset Tetap yang Hilang

                  Kali ini saya menulis tentang penarikan aset tetap, tentang perlakuan akuntansi pada aset tetap yang rusak (fatal damaged) dan aset tetap yang terbakar (fire loss).

                  Terkadang dalam sebuah usaha, ada saja kejadian kejadian yang tentunya tidak diinginkan terjadi, tidak terpikirkan bahkan tidak diduga bahwa sesuatu hal merugikan perusahaan yang tidak direncanakan bisa dialami oleh sebuah perusahaan besar maupun entitas skala kecil.

                  Aset tetap yang ada bisa rusak kapan saja, bisa terbakar kapan saja tanpa adanya jadwal yang jelas.

                  Bagaimanakah perlakuan akuntansinya ?

                  Aset Tetap Rusak (Fatal Damaged) dan Terbakar (Fire Loss)

                  penarikan aktiva tetap
                  aset tetap terbakar

                  Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab rusaknya aset tetap.

                  Kerusakan bisa diakibatkan kelalaian pihak perusahaan sendiri ataupun akibat force majeur.

                  [1] Kelalaian Pihak Perusahaan Sendiri

                  Kelalaian pihak internal perusahaan sendiri bisa dilakukan oleh karyawan, pemilik atau siapapun yang berada dalam lingkaran internal perusahaan.

                  Dari berbagai referensi, kelalaian pihak internal perusahaan ada beberapa kemungkinan dan yang paling sering terjadi adalah sebagai berikut:

                  # Terjadi kesalahan instalasi

                  Apabila kesalahan instalasi ini terjadi, sebenarnya yang bertanggung-jawab adalah teknisinya, teknisi bisa seorang tukang pasangnya.

                  Apabila menggunakan jasa teknisi dari luar perusahaan (outsourching) maka tentu saja yang bertanggungjawab mengganti rugi adalah pihak yang menyediakan jasa instalasi itu jika ada perjanjian didalamnya sebelumnya.

                  # Salah Dalam Pengoperasian

                  Apabila kasus seperti ini yang terjadi, maka yang bertanggungjawab adalah operator dan supervisornya atau bisa juga orang dalam perusahaan.

                  Tentu juga tergantung pada kebijakan masing masing perusahaan, bentuk tanggungjawab diwujudkan dalam penggantian kerugian aset tetap. 

                  Tetapi apabila kebijakan perusahaan tidak mengharuskan adanya ganti rugi kepada operator maupuan supervisornya, ya selamatlah si operator dari tuntutan ganti rugi. 

                  Semua tergantung perusahaan masing masing, karena beda perusahaan biasanya beda kebijakan.

                  Force Majeur | kerusakan karena bencana alam

                  Bentuk dari Force Majeur bisa beragam. Banjir, kebakaran, gempa, bahkan badai, kerispatih (#eh).

                  Untuk melindungi aset tetapnya dari kemungkinan kerugian atas bila terjadi force majeur, perusahaan biasanya menggunakan jasa asuransi untuk meminimalisir resiko (loss coverage) kerugian.

                  Dan yang paling penting, semua kejadian kategori force majeur yang terjadi harus disertai oleh bukti lapor dari kepolisian.

                  Ok, lalu bagaimana prosedur penghapusannya?

                  Prosedur penghapusan sama saja prosedurnya dengan kasus kehilangan, namun akan menjadi sedikit berbeda jika setelah kerusakan ada ganti rugi ataupun diganti oleh asuransi (insurance coverage).

                  Contoh kasus:

                  PT Foraz pada tanggal  6 Juni 2014 meresmikan sekaligus memakai untuk pertama kalinya gedung ekspansi PT Foraz yang di perolehnya dengan harga perolehan senilai Rp 1.000.000.000, (1M)

                  Diperkirakan, gedung baru tersebut akan bertahan selama umur ekonomisnya  hingga 50 tahun lamanya.

                  Untuk menghitung penyusutan gedung. manajemen memutuskan untuk menggunakan metode garis lurus.

                  Tetapi celakanya,pada 28 agustus 2014 gedung yang baru saja diresmikan tersebut mengalami musibah kebakaran yang meludeskan hampir seluruh bagian gedung.

                  Beruntungnya PT foraz, gedung yang terbakar tersebut telah diasuransikan dan mendapat uang pertanggungan pada tanggal 29 Agustus sebesar Rp 800.000.000.

                  Langkah Pertama: Update Nilai Buku terakhir Aset Tetap Gedung

                  Penyusutan 6 Jan – 28 Agustus 2014:

                  Penyusutan = 3/12 x (Rp 1.000,000,000/50) = Rp 5.000.000

                  Akui penyusutan dengan jurnal:

                  [Debit]      Depreciation        Rp 5.000.000
                  [Credit]             Accum. Deprec                 Rp 5.000.000

                  catatan: penyusutan hanya 3 bulan, karena gedung sempat dipakai selama 3 bulan

                  Dari penjurnalan seperti diatas maka Akumulasi penyusutan sebesar  Rp 5.000.000

                  Sehingga nilai buku aktiva gedung per tanggal 28 Agustus 2014 menjadi:

                  Nilai Perolehan - Akumulasi penyusutan aset tetap gedung
                  1.000.000.000 - 5.000.000
                  = Rp  995.000.000


                  Langkah ke dua: Hapus Aset Tetap Gedung

                  Pada tanggal 28 Agustus 2014, Aset Tetap Gedung yang terbakar dihapus, jurnalnya:

                  [Debit ] Accum Deprec.             Rp       5,000,000
                  [Debit ] Fire Lost Rp                  Rp   995.000.000
                  [Credit] Aset Tetap Gedung                               Rp 1.000.000,000

                  Langkah Selanjutnya: Pengakuan Klaim Asuransi

                  Tanggal 29 Agustus 2014, penerimaan klaim asuransi sebesar Rp 800,000,000 jurnalnya:

                  [Debit] Kas                 Rp 800,000,000
                  [Credit] Fire Lost                                   Rp 800,000,000

                  Jadi, dari penjurnalan diatas, maka kerugian akibat kebakaran gedung per tanggal 29 Agustus 2014 tinggal:
                  Rp 995.000.000 - Rp 800.000.000
                  = Rp 195.000.000


                  Notes:
                  Pada akhir periode, sama seperti aset tetap yang hilang, aset tetapnya tentu tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldonya sudah nol.

                  Sedangkan kerugiannya dimasukkan ke dalam kelompok Pos Pos Luar biasa (extra ordinary items).

                  Dan dalam catatan laporan keuangan, harus diberikan penjelasan yang cukup mengenai penyebab terjadinya Extraordinary Items.

                  Dari kasus aset tetap terbakar diatas, apabila bangunan perusahaan terbakar sampai habis hingga tak tersisa, ludes, semua isi isinya seperti mesin, peralatan, inventory dan semuanya juga hangus dimakan api yang lagi marah.

                  Mesin dan juga peralatan kantor dapat dihapus dengan cara yang sama seperti penghapusan bangunan.

                  Tetapi bagaimana dengan Inventorinya ?

                  Apakah sama caranya ?

                  Tidak.

                  Penghapusan inventori tidak sama dengan aset tetap, karena inventori itu berhubungan/terkait langsung dengan harga pokok penjualan.

                  Jurnal Penjualan Aktiva Tetap dalam Perlakuan Akuntansi Penjualan Aset

                  Jurnal Penjualan Aktiva Tetap dalam Perlakuan Akuntansi Penjualan Aset

                  Penghapusan Aktiva - Dalam kondisi tertentu, suatu perusahaan menghadapi kondisi yang tidak biasa dalam operasinya sehingga mengharuskan atau memutuskan untuk melakukan PENJUALAN AKTIVA TETAP.

                  Padahal, tujuan awal perusahaan dalam membeli aset tetap tersebut adalah untuk digunakan dalam operasi perusahaan selama umur manfaat ekonominya demi mempertahankan kelangsungan usaha.

                  Baik itu untuk tempat, peralatan, untuk produksi maupun kegunaan lainnya.

                  Intinya.... aset tetap pada awalnya tidak ditujukan untuk di jual kembali.

                  Penghapusan Aktiva

                  Penghapusan Aktiva Tetap

                  Dalam kondisi tertentu, banyak alasan perusahaan harus memutuskan untuk melakukan penjualan aset tetap, seperti:
                  • Perusahaan berganti jenis produk, sehingga mesin atau peralatan tertentu tidak dapat digunakan dan mubazir
                  • Membutuhkan dana atau kekurangan dana, untuk bayar utang atau modal kerja
                  • Perusahaan ditutup karena alasan tertentu dan tidak berproduksi kembali
                  • Upgrade aktiva tetap, misal mobil yang sudah tua yang biaya maintenance-nya mahal diganti dengan yang baru, atau komputer yang sudah tidak mendukung lagi diganti dengan yang lebih canggih
                  Penjualan aktiva tetap merupakan salah satu jenis penarikan aktiva.

                  Bagaimana prosedur dan perlakuan akuntansi-nya?

                  Perlakuan Akuntansi Penjualan Aset Tetap

                  Dua langkah yang dilakukan dalam prosedur penjualan aset tetap:
                  1. Update nilai buku aset tetap yang dijual
                  2. Hapus aset tetap
                  Plus tambahan pelaporan laba atau rugi penjualan aktiva tetap
                    Tentu juga dengan beberapa beberapa langkah detilnya

                    penghapusan aktiva tetap

                    Contoh Kasus:

                    Pada tanggal 6 Juli 2015, PT.Bunaji menjual aktiva tetap kendaraan kantor dengan harga Rp 150.000.000.

                    Kendaraan ini dibeli pada 02 February 2012 dan saat itu harga pembeliannya menghabiskan dana sebesar Rp 240.000.000.

                    Beberapa catatan tambahan:

                    PT. Bunaji memakai metode garis lurus dalam perhitungan penyusutan aset tetap tanpa nilai sisa (nilai residu).

                    Kendaraan diperkirakan memiliki umur ekonomis 10 Tahun.

                    Berikut posisi aset kendaraan PT Bunaji per 31 Des 2014 :

                    Nilai buku penjualan aktiva

                         
                    Langkah Langkahnya:

                    # 1. Update Nilai Buku Aset Tetap 

                    Menghitung penyusutan dari tangal 01 Januari – 6 Juli 2015

                      Aktiva kendaraan perusahaan dijual pada tanggal 6 Juli 2015, dimana tanggal 6 belum melewati setengah bulan, maka untuk bulan Juli dianggap mesin belum digunakann selama 1 bulan penuh, dan bulan juli penyusutan tidak perlu di hitung.

                      Penyusutan hanya dihitung hingga bulan juni saja.

                      Penyusutan 1 Jan - 6 Juli 2015 = 6/12 x (Rp 240.000.000/10)
                      Rp  12.000.000

                      Lalu jurnal beban penyusutan tersebut :

                      penyusutan penghapusan aktiva tetap

                      Jurnal tersebut menambah biaya penyusutan dan menambah akumulasi penyusutan kendaraan sebesar Rp 12.000.000

                      Sehingga "Accum Deprec Kendaraan" per tanggal 6 Juli 2015 adalah sebagai berikut :

                      Akumulasi / 6 juli 2015 = Penyusutan selama 2014 + Penyusutan selama 2015
                      =  Rp 70.000.000 +  Rp 12.000.000>
                      = Rp 82.000.000

                      Dan nilai buku kendaraan per 6 Juli 2015 adalah :

                      Nilai buku mesin per 6 Juli 2015 = Rp 240.000.000 – Rp 82.000.000
                      = Rp 158.000.000

                      Langkah berikutnya adalah penghapusan aktiva tetap

                      # 2. Penghapusan Aktiva Tetap Kendaraan

                      Jurnal penghapusan atau penjualan aktiva tetap kendaraan adalah:

                      jurnal penjualan aktiva tetap
                        Notes:
                      • Menghapus aset tetap kendaraan dan juga akumulasi penyusutannya. penghapusan ini terjadi karena posting aset tetap mesin dimasukkan di kredit dan akumulasi penyusutan dicatat ke sisi debit.
                      • Mencatat kas masuk/mengakui piutang sebesar harga penjualan. Apabila transaksi penjualannya secara tunai, maka akun kas yang di pakai, tetapi apabila transaksi penjualan secara kredit, maka piutang yang dipakai.
                      • Mengakui rugi penjualan aset tetap mesin sebesar selisih nilai buku terbaru/terupdate dengan harga nilai penjualan
                      Bagaimana jika aset tetap dijual dengan harga diatas nilai buku aktiva setelah di update?

                      Ya tinggal di balik saja jurnalnya, dari rugi menjadi akun laba.

                      Misalnya, pada contoh kasus yang sama, namun aktiva dijual seharga Rp 170.000.000 sehingga perusahaan mendapatkan laba seebesar dari penjualan kendaraan tersebut.


                      # 3. Pelaporan Laba Rugi Penjualan Aset Tetap

                      Laba rugi penjualan aset tetap dilaporkan dalam laporan laba rugi, didalam klasifikasi pendapatan lain lain.
                      Akuntansi Peralatan Kecil dalam Perlakuan Akuntansi Peralatan Kecil

                      Akuntansi Peralatan Kecil dalam Perlakuan Akuntansi Peralatan Kecil

                      Akuntansi Peralatan Kecil

                      Peralatan kecil bagi perusahaan sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancaran pekerjaan, apalagi jenis perusahaan manufaktur yang kegiatan utamanya menggunakan mesin, pasti menggunakan peralatan kecil sebagai pendukung kelancaran operasional perusahaan.

                      Bahkan. perusahaan yang tidak menggunakan mesinpun juga memerlukan peralatan kecil untuk kelancaran pekerjaan kantornya.

                      Disetiap operasional perusahaan, pasti kita dapatkan peralatan kecil yang digunakan oleh perusahaan.

                      Peralatan kecil banyak sekali jenisnya, tergantung juga perusahaannya apakah memerlukan atau tidak memerlukan.

                      Namun ada beberapa karakteristik dari peralatan kecil yang bisa kita kenali.
                      Berikut diantarnya:

                      Karakteristik Peralatan Kecil

                      peralatan kecil
                      Peralatan Akuntansi

                      [#] Dilihat dari fungsinya

                      Peralatan kecil tidak bisa menghasilkan barang atau jasa secara langsung, tapi memerlukan equipment yang lain, karena peralatan kecil fungsinya hanya sebagai penunjang operasional.

                      [#] Dilihat dari umur ekonomisnya

                      Nilai umur ekonomis peralatan kecil biasanya melebihi satu (1) tahun buku akuntansi

                      [#] Dilihat dari nilainya

                      Peralatan kecil nilainya dalam perusahaan biasanya tidak material
                      Contohnya seperti gunting, staples, obeng, meteran, penggaris dan lain sebagainya

                      Karakter dari peralatan kecil yang seperti ini terkadang membuat kita bingung dalam bagaimana perlakuan akuntansinya !

                      Kita atau banyak perusahaan yang mencatat peralatan kecil sebagai biaya.

                      Melihat dari tingkat ke-materialitas-nya yang relatif tidak mahal. peralatan kecil memang banyak yang dikelompokkan kedalam biaya pada periode peralatan tersebut diperoleh karena melihat nilainya yang amat kecil.

                      Tidak material.

                      Misalnya biaya pembelian dongkrak, obeng atau pun penggaris banyak yang mencatatnya sebagai "Biaya Peralatan". 

                      Akan tetapi, dengan perlakuan akuntansi seperti itu, faktor umur ekonomis peralatan kecil yang melebihi 1 satu tahun buku bahkan ada yang bertahun tahun bila dirawat dengan baik menjadi terabaikan.

                      Matching principle akuntansi menjadi tidak sesuai lagi jika memperlakukannya sebagai biaya.
                      Namun, jika peralatan kecil kita masukkan ke kelompok aktiva tetap, bagaimana cara membebankan nantinya ?

                      Bukankan nilai peralatan kecil ini nilainya relatif kecil ?

                      Bisa menyusahkan nantinya. Apalagi untuk perusahaan besar karena pasti ada ratusan hingga ribuan peralatan kecil yang digunakan.

                      Akan sangat merepotkan menghitungnya.
                      Lalu bagaimana memperlakukan peralatan kecil?

                      Saya kira ada dua penekanan yang bisa kita lakukan.

                      Pertama kita lihat umur ekonomis peralatan kecil tersebut

                      Lalu kemudian kita lihat nilai gabungan dari beberapa peralatan kecil tersebut.

                      [1] Telaah umur ekonomis peralatan kecilnya

                      Pertimbangkan umur ekonomisnya terlebih dahulu, jika umur ekonomis peralatan kecil tersebut kurang dari 1 (satu) tahun buku, maka jelas kita langsung saja mengakuinya sebagai beban atau dibebankan pada periode yang sama saat peralatan tersebut diperoleh.

                      Namun apabila peralatan kecil tersebut mempunyai umur atau masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun buku akuntansi, maka peralatan kecil ini "berpotensi" untuk dikelompokkan dalam aset tool & equipment.

                      Ingat. "berpotensi" !

                      Tapi hal ini masih memerlukan pertimbangan selanjutnya.

                      [2] Lihat nilai gabungan peralatan kecilnya !

                      Pertimbangan yang diperlukan kedua adalah apabila peralatan kecil tersebut digabungkan dengan peralatan kecil yang lain, yang umurnya juga melebihi satu tahun buku dan nilai gabungannya menjadi nilai yang material

                      Maka kita dapat mengelompokkan peralatan peralatan kecil tersebut ke dalam aset (peralatan dan perlengkapan).

                      Untuk perusahaan kecil atau baru beroperasi mungkin belum banyak peralatan kecil yang digunakan, maka yang menjadi pertimbangan adalah potensi penggunaan peralatan kecil di masa mendatang karena mungkin saat ini peralatan nya jika digabungkan sekalipun nilainya tidak akan material,

                      Tapi di masa yang akan datang, bisa saja peralatan peralatan kecil tersebut akan sangat signifikan nilai gabugannya.

                      Membebankan Peralatan Kecil Gabungan

                      Pembebanan peralatan kecil gabungan dilakukan menjelang penutupan buku dengan melakukan perhitungan fisik terhadap peralatan kecil gabungan tersebut.

                      Jika pembebanan peralatan gabungan dilakukan dengan menyusutkan secara satu persatu dengan menggunakan metode garis lurus misalnya maupun saldo menurun tidaklah efektif.

                      Saldo awal peralatan kecil tersebut adalah nilai total pembelian atau semua yang dikeluarkan saat perolehan peralatan kecil tersebut.

                      Sedangkan saldo akhir atau nilai buku dari peralatan kecil tersebut adalah hasil perhitungan fisik peralatan kecil tersebut.

                      Dengan begitu, maka peralatan yang terpakai nilainya bisa ditentukan.

                      Contoh :

                      Nama Peralatan Jumlah awal Jumlah Akhir Terpakai Harga Satuan Nilai Terpakai Nilai Buku
                      Steples 50 20 30 20.000,- 600.000,- 400.000,-
                      Penggaris 75 30 45 5.000,- 225.000,- 150.000,-
                      Total 825.000,- 550.000,-

                      Dari daftar di atas, kita bisa membuat pencatatan seperti ini :

                      Debit | Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000
                      Kredit | Akm. Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000

                      Ok, bisa dicerna kan ?

                      Jika masih sulit dipahami, silahkan ditanyakan pada kolom komentar.

                      Demikian pembahasan mengenai akuntansi peralatan kecil, semoga bermanfaat.

                      Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) dalam Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

                      Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) dalam Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

                      Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure


                      ekspenditure aktiva tetap
                      Pengeluaran Aktiva Ekspenditure

                      Dalam perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap, ada fase penggunaan aktiva tetap (utilization) setelah fase perolehan aset tetap. 

                      Pada fase penggunaan aktiva tetap ini, aktiva tetap diharapkan menghasilkan output dan memberikan hasil kembali atas biaya biaya yang pernah dikeluarkan pada saat masa perolehannya.

                      Ya, sudah seharusnya aktiva tetap yang dibeli mulai menghasilkan sesuatu untuk perusahaan.

                      Tapi, pada setiap output yang dihasilkan oleh aktiva tetap, tentunya memerlukan pengorbanan yang dalam akuntansi biasa disebut sebagai beban/biaya (expenses) ataupun cost (harga pokok). 

                      Agar aktiva tetap bisa berproduksi untuk menghasilkan output yang diharapkan, aktiva tetap harus dijalankan atau dipekerjakan dengan maksimal. 

                      Atas aktivitas yang dilakukan pada suatu aset tetap saat dijalankan, ada dua kemungkinan yang akan timbul.
                      • Adanya pengeluaran (expenditure) untuk perbaikan maupun untuk pemeliharaan aset tetap (maintenance)
                      • Adanya penurunan fungsi, juga berkurangnya umur ekonomis aktiva tetap yang dioperasikan, dalam akuntansi bisa kita kenal sebagai penyusutan (depreciation)
                        Pada tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang yang pertama, yaitu pengeluaran aktiva tetap (ekspenditure), karena untuk penyusutan aset tetap, sudah saya tulis sebelumnya.

                        Perlakuan Akuntansi Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure

                        Seperti yang dijabarkan sebelumnya, akibat dari penggunaan aktiva tetap adalah adanya beberapa pengeluaran pengeluaran yang perlu dilakukan.

                        Nah pertanyaannya..

                        Apakah pengeluaran pengeluaran atas penggunaan aktiva tersebut DIBEBANKAN pada periode berjalan atau DIKAPITALISASI ?

                        Mari kita simak.

                        Ada beberapa kegiatan atau aktivitas yang biasa terjadi pada saat aktiva tetap digunakan.

                        Seperti aktivitas pemeliharaan, perbaikan, pergantian komponen, upgrading, turun mesin (over haul) yang semuaya memerlukan biaya.

                        # Pemeliharaan | Maintenance

                        Pemeliharaan atau Maintenance aktiva tetap adalah tindakan yang bertujuan hanya untuk membuat aktiva bisa berfungsi normal seperti biasanya.

                        Segala bentuk pengeluaran sebaiknya dijadikan biaya atau di-BEBAN-kan diperiode pada saat biaya maintenance tersebut di keluarkan.

                        Apakah biaya pemeliharaan boleh dikapitalisasi ?

                        Ok, yang ini dijawab nanti saja :)

                        Contoh Kasus Biaya Maintenance :

                        Untuk memberikan oli pada mesin produksinya seperti biasanya, PT ABC mengeluarkan uang sebesar Rp 400.000 serta membersihkan mesinnya.

                        Pada kasus tersebut, transaksi sudah sangat jelas, bahwa PT ABC mengeluarkan cash untuk menjaga agar mesin produksinya bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

                        Pengeluaran atas biaya maintenance ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

                        Debit | Office Maintenance 400.000
                        Kredit | Cash 400.000

                        # Perbaikan Aktiva Tetap | Repair

                        Perbaikan (repair) adalah tindakan terhadap aktiva tetap dimana kegiatan ini lebih besar daripada pemeliharaan (maintenance).

                        Apabila aktiva tersebut bisa berfungsi secara maksimal jika dilakukan tindakan perbaikan (repair) terlebih dahulu.

                        Seperti ada bagian atau komponen pada aktiva yang menurun fungsinya TETAPI masih belum diperlukan pergantian menyeluruh atas aktiva tersebut.

                        Contoh Kasus :

                        Dari kasus PT ABC diatas, saat teknisi mulai akan memasukkan atau mengganti oli akan tetapi diketahui komponen saluran oli mesinnya diketahui bocor terkena korosi sehingga oli mesin tak bisa bekerja dengan semestinya.

                        Untuk itu PT ABC harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengelas bagian mesin tersebut sebesar Rp 600.000,-

                        Dari contoh kasus di atas, kita dapat melihat bahwa tindakan ini bukan hanya sekedar aktivitas melakukan pemeliharaan (maintenance) melainkan sudah terjadi aktivitas perbaikan (repairs) pada aktiva tetap mesin yang dimiliki PT ABC.

                        Maka, PT ABC harus melakukan pencatatan sebagai berikut :

                        Debit | Akumulasi Penyusutan Mesin 600.000
                        Debit | Office Maintenance 400.000
                        Kredit | Cash 1.000.000

                        Apakah boleh dikapitalisasi semua ?

                        Sabar, tunggu dulu dijawab nanti saja :)

                        # Pergantian Komponen Aset 

                        Penggantian komponen aktiva tetap, sudah jelas maksudnya, kegiatan mengganti satu atau beberapa komponen dari aktiva tetap

                        Contoh Kasus :

                        Ditemukan bahwa wiper kaca mobil rusak dan ban mobil operasional pecah, wiper tidak bisa dipakai lagi sedangkan ban pecah.

                        Maka PT ABC perlu melakukan penggantian terhadap komponen yang sudah tidak berfungsi tersebut secara terpisah.

                        Dari nota pembelian. tertera harga ban Rp 1.475.000,- dan harga wiper kaca mobil adalah 70.000,- 

                        Atas transaksi tersebut, dilakukan pencatatan sebagai berikut :

                        Debit | Maintenance 70.000
                        Debit | Akumulasi Penyusutan Mobil 1.475.000
                        Kredit | Cash 1.545.000


                        Mengapa tidak dikapitalisasi semua ?

                        Mengapa hanya ban mobil yang dikapitalisasi ?

                        Ok, mohon sabar lagi ya, nanti dulu dijawabnya :)

                        # Pengangkatan Kapasitas 

                        Perusahaan yang sedang bertumbuh dan berkembang, biasanya jumlah produksinya juga meningkat.

                        Akibatnya, perusahaan mau tak mau melakukan peningkatan kapasitas (upgrade) terhadap aset tetap yang digunakan, apakah itu gudang, mesin, tanah atau apapun itu sumber daya yang menghasilkan terhadap pertumbuhan perusahaan.

                        Jika terjadi upgrading terhadap aktiva tetap, hal ini akan menimbulkan pengeluaran pengeluaran yang cukup bernilai material bagi perusahaan.

                        Contoh Kasus Peningkatan Kapasitas (Up-grading)

                        PT Bianglala, yang bergerak dalam usaha pakan ternak, akhir akhir ini mengalami permintaan pesanan, omzet terus bertambah.

                        Untuk itu PT Bianglala memutuskan untuk menambah kapasitas mesin Boiler yang dimiliki saat ini.

                        Pemanas boiler ini menggunakan bahan bakar kayu dan ingin di ubah menjadi bahan bakar batu bara agar kinerja boiler meningkat.

                        Dalam peningkatan kapasitas tersebut, PT Bianglala mengeluarkan kas dengan rincian sebagai berikut :

                        Pembelian Besi 17.000.000
                        Biaya Pasang Teknisi 7.000.000
                        Penadah Batu Bara 6.000.000
                        Biaya Lain Lain 2.000.000

                        Transaksi tersebut dicatat :

                        Debit | Mesin 32.000.000
                        Kredit | Cash 32.000.000

                        # Turun Mesin | Overhaul

                        Turun mesin (overhaul) akan dialami oleh aset tetap tipe mesin atau aktivitasnya menggunakan mesin.

                        Contohnya: Mobil, Mesin produksi, mobil atau kendaraan lainnya dan peralatan yang berhubungan dengan produksi.

                        Aktiva mengalami turun mesin jika untuk bisa membuat suatu aset berfungsi dengan baik diperlukan pembongkaran hampir menyeluruh pada komponen utama dari aktiva tetap tersebut, lalu dilakukan pemasangan kembali.

                        Pada saat aktiva dalam proses turun mesin, terjadi juga proses pergantian komponen, pemeliharaan, juga perbaikan pada aset mesin tersebut.

                        Aktivitas over haul umumnya terjadi saat mesin menurun output-nya secara signfikan karena penggunaan yang sering.

                        Tindakan over haul akan memperpanjang umur keekonomian mesin tersebut.

                        Maka pengeluaran yang timbul sebaiknya dikapitalisasi dengan mendebit rekening akumulasi penyusutan sebesar pengeluaran turun mesin tersebut.

                        Contoh Kasus Turun Mesin

                        PT ABC Melakukan Turun Mesin pada salah satu mesin produksinya.

                        Mesin yang di beli 9 tahun lalu diperoleh dengan harga Rp 50.000.000.

                        Saat itu, mesin tersebut diestimasi memiliki life time selama 10 tahun dengan menggunakan metode penyusutan garis lurus.

                        Setelah dilakukan turun mesin tersebut, mesin tersebut diperkirakan akan mampu produktif hingga 5 tahun kedepan.

                        Perusahaan menghabiskan dana hingga Rp. 8.000.000 untuk turun mesin tersebut

                        Maka dilakukan pencatatan sebagai berikut :

                        Debit | Akumulasi Penyusutan 8.000.000
                        Kredit | Cash 8.000.000

                        Notes :
                        Jurnal diatas untuk mengkapitalisasi pengeluaran atas turun mesin sebesar Rp 8.000.000

                        Masalah berikutnya :
                        • Berapa akumulasi penyusutan setelah turun mesin?
                        • Berapa besarnya Nilai Buku mesin setelah turun mesin?
                        • Berapa biaya penyusutan yang akan dibebankan pada tahun ke 9 ?
                        • Berapa Nilau Buku Tutup Tahun ke 9 nanti ?
                            Maka perlu kita lakukan perhitungan awal sebagai berikut :

                            Sebelum Turun Mesin
                            Harga Perolehan 50.000.000
                            Umur Ekonomis 10 Tahun
                            Biaya Penyusutan Per Tahun 5.000.000
                            Akumulasi Penyusutan Tahun ke 9 45.000.000
                            Nilai Tutup Buku Tahun ke 9 5.000.000

                            Setelah Turun Mesin
                            Akumulasi Penyusutan  37.000.000
                            Nilai Buku 13.000.000
                            Tambahan Umur Ekonomis 5 Tahun
                            Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
                            Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
                            Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 10.400.000

                            Keterangan
                            Akumulasi Penyusutan 45.000.000 - 8.000.000
                            Nilai Buku 50.000.000 - 37.000.000
                            Penyusutan Tahun ke 10 13.000.000 : 5
                            Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000 x 1
                            Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 13.000.000 - 2.600.000


                            Dari sana kita lihat.

                            Setelah pengeluaran atas turun mesin di kapitalisasi sebesar Rp 8.000.000 dengan cara mendebit rekening Akumulasi penyusutan sebesar Rp 8.000.000

                            Maka Akumulasi Penyusutan berkurang sebesar Rp 8.000.000 sehingga Akumulasi Penyusutan setelah turun mesin adalah :

                            Rp 45.000.000 - Rp 8.000.000 =  Rp 37.000.000

                            Nilai Buku menjadi

                            Rp 50.000.000 - 37.000.000 = Rp 13.000.000

                            Penyusutan yang dibebankan pada tahun ke-10 adalah sebesar :

                            Rp 13.000.000 : 5 Tahun = 2.600.000

                            5 Tahun adalah umur ekonomis setelah turun mesin, selama 5 tahun ke depan mesin tersebut dapat beroperasi

                            Nilai Buku tutup tahun ke-8 ini pun menjadi bisa kita hitung, yaitu :

                            Rp 13.000.000 – Rp 2.600.000 = 10.400.000

                            Beberapa Hal yang Perlu Dipertimbangkan

                            Diatas tadi pada contoh kasus, beli ban dikapitalisasi, sedangkan beli wiper mobil kok tidak dikapitalisasi ?

                            Wiper mobil harganya cuma 70 ribu.

                            Mau dikapitalisasi kok nilainya kecil amat, tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai laba jika langsung dibebankan.

                            Ok, berikut ini yang perlu diperhatikan,

                            Apakah pengeluaran aktiva tetap (expenditure) itu sebaiknya dikapitalisasi atau dibebankan pada periode tersebut ?

                            1. Tingkat Keseringan

                            Jika jenis pengeluaran tersebut sering terjadi dan sifatnya rutin, sebaiknya pengeluaran tersebut dijadikan biaya saja pada saat periode terjadinya pengeluaran atas aktiva tersebut.

                            2. Materialitas

                            Apabila suatu pengeluaran dirasa cukup material, hendaknya pengeluaran tersebut dikapitalisasi, sedangkan bila tidak, berarti di bebankan.

                            Cara mengetahui material tidaknya dengan membandingkan pengeluaran yang terjadi dengan harga perolehan aset tetapnya.

                            Tingkat materialitas dari toko bangunan tentu berbeda dengan perusahaan tambang.

                            5 juta mungkin nilai yang material bagi toko bangunan. tapi bisa jadi recehan bagi perusahaan tambang !

                            3. Lama Manfaat

                            Jika pengeluaran terhadap aktiva tetap tersebut diprediksi akan memberikan manfaat yang lama atau lebih dari satu tahun buku.

                            Maka sebaiknya pengeluaran atas aktiva tersebut hendaknya di kapitalisasi,

                            Dan jika kurang dari satu buku, hendaknya tidak.

                            Tapi sangkut pautkan juga dengan materialitasnya.

                            4. Pengaruhnya terhadap Lama Manfaat atau Kapasitas Aktiva Tetap

                            Apabila pengeluaran atas aktiva tetap tersebut di perkirakan memperpanjang umur atau meningkatkan kapasitas aktiva, hendaknya di kapitalisasi.

                            Dan demikian sebaliknya.

                            Bagaimana ?

                            Sudah ada gambaran ?

                            Copyright © mnjmn. My Simple Template: Simple Template Design